Nothing is Something

Tags

, , , , , , ,

Let me describe something we have in this life. We have family, friends, and other people surrounding. But those things will not be appear on our mind when they stay closely. We look for different things which not existed. So it means something is nothing.

Simple way, we live with our parents and our siblings are not. Mostly parents will ask for our siblings. Mostly parents will not realize that we wait for them instead of the pets at home. Weird. But it happened.

Now, let’s turn back the story. When we feel really bad, no one cares. Think again. Maybe at the same time we are being missed. Maybe at the same time there are some people think that we are special. But distance apart us. It means nothing is something.

I’m not sure if it will be common issue for everyone or only me who has experience on this thing. Well, as a human being, people tend to be asking more and more. It makes us not realized a good thing in front of us. There should be better things and so forth.

It is about how grateful we are to be happy. How grateful we are to enjoy the life, to see nothing become something. To think that nothing can create something except us.

Complicated, huh?

Which one do you prefer if you may choose:

To be something while it is nothing or let it be nothing which can be something 🙂

Advertisements

Quote

Mungkin (?)

Tags

, , , , ,

Sebaik-baiknya seseorang,saat dia melakukan kesalahan atau kejahatan, apa mungkin untuk dimaafkan? Apa mungkin ia akan berubah menjadi tidak baik dan jahat selamanya?

Sejahat-jahatnya seseorang, saat dia melakukan kebaikan atau kebenaran, apa mungkin untuk dipuji? Apa mungkin ia akan berubah menjadi baik dan benar selamanya?

Krisis Moral

Tags

, , , , , ,

Mungkin cerita ini hanya sebagian kecil untuk menggambarkan betapa bobroknya negeri Indonesia ini.

Sore hari, saat saya dan beberapa penumpang lain turun kereta di suatu stasiun, kami dikagetkan dengan keributan beberapa orang. Ternyata telah terjadi baku hantam, bahkan kelihatannya adalah seseorang yang sedang diserang karena hal yang kmai tidak ketahui. Namun yang lebih mengejutkan lagi, beberapa orang yang juga baru saja turun kereta langsung lari dan seolah memprovokasi hingga memperkeruh suasana. Mereka langsung ikut baku hantam, menyerang salah seorang yang memang menjadi sasaran sebelumnya.

Cuplikan kejadian tersebut membuat saya berpikir bahwa ini adalah realita negara kita. Banyak yang sudah terjadi diluar sana pun karena ulah orang tidak bertanggung jawab sehingga mengakibatkan beberapa pihak tidak bersalah merasa dirugikan. Mental provokator dan jiwa yang tidak bijak membawa jalan pikiran seseorang kearah tidak baik.

Sungguh miris. Di negara yang memiliki dasar Pancasila, menyokong hidup gotong royong, mengakui adanya keberagaman hingga semboyan Bhineka Tunggal Ika namun masih banyak individu yang berperilaku menyedihkan dan sangat tidak beretika. Sangat disayangkan, bukan?

Sumber daya banyak namun krisis moral menyerang. Siapa yang salah? Pertanyaan ini sebenarnya sulit untuk dijawab. Karena akar permasalahannya juga sangat sulit dipastikan. Akan selalu ada sisi yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang berbeda pula. Dan jika disatukan maka ini menjadi sebuah rantai kemudian membentuk “lingkaran setan” yang tak kunjung putus. Selain itu, pembahasan ini juga menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai

Saya akan coba ilustrasikan sedikit disini agar bisa terlihat seperti apa realitanya. Menurut saya, sebagai orang yang berpendidikan, rendahnya atau menurunnya tingkat moral individu di Indonesia disebabkan oleh edukasi negeri ini. Seharusnya dengan terpenuhinya kebutuhan edukasi dini tersebut, manusia akan terbentuk karakter dan moralnya. Namun sayang, pada kenyataannya masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan. Bahkan, tingginya pemikiran yang sangat tradisional turut berperan dalam rendahnya atau tertutupnya cara berpikir masyarakat.

Namun jika ditelaah kembali, apa yang menjadikan pendidikan Indonesia demikian?

Pagi itu saya akan berangkat ke kantor. Sembari tunggu kereta dateng, saya liat ada ibu hamil dan saya berpikir gila juga nih si ibu kalo bertarung masuk kereta. Apa iya bakal ada yang mau kasi duduk.

Setelah kereta dateng, saya langsung masuk dan dapet duduk. Fyi, ini kereta feeder makanya agak lengang DIKIT. Pas kereta jalan, saya liat si ibu hamil itu lagi dan DIA BERDIRI. Gila kan! Dugaan gue bener. Alhasil saya panggil dan suruh dia duduk ditempat saya.

Miris banget rasanya, penumpang lain dekat sana pada ga punya pikiran kasi duduk buat si ibu hamil apa? Itu perutnya keliatan banget loh. Ga ngerti lagi sama manusia di dalem kereta waktu itu.

Pesan aja sih buat temen-temen dan seluruh pengguna transportasi umum. Belajarlah untuk tidak egois. Peduli sesama di sekitar Anda. Memang betul, Anda tidak mengenalnya, tapi bebuat baik bukanlah hal yang merugikan bukan?

Semoga saja kejadian ini bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Things Should be Considered

Tags

, , , , , , , , , , , , , , , , , ,

3 things in university which never go together:

sleep, social, score

if you want to have nice sleep and good score, maybe you will not be with social.

if you want to have good score and very active in social, maybe you will be lack of sleep time.

if you want to have much time to sleep and very active in social, maybe you will not get a good score.

3 things in workplace which never go together:

remuneration, environment, responsibility

if you want to have good remuneration and nice environment, maybe you will not really satisfy with the responsibility.

if you want to have a nice environment and deal with great responsibility, maybe you will not get what you expect for remuneration.

if you want to have a good remuneration and suitable with the responsibility, maybe you will not have a nice environment.

So, which one will you choose? 🙂

Salah Siapa?

Tags

, , , ,

Kejadian ini bukan pertama atau kedua kalinya dan menurut saya cukup sepele. Maka dari itu  saya tergerak untuk berbagi kepada masyarakat dalam bentuk tulisan. Karena jujur, saya miris.

Saya adalah seorang pribadi yang senang menggunakan jasa transportasi umum. Salut untuk perkembangan transportasi umum saat ini yang semakin mengarah lebih baik. Namun sungguh disayangkan karena sumber daya manusianya tidak turut mendukung kearah lebih baik juga.

Sebagai salahsatu contoh yang sering saya temui adalah saat menggunakan jasa commuter line dan transjakarta. Kedua transportasi tersebut kiranya menjadi pilihan alternatif yang cukup digemari warga ibukota. Bagaimana tidak, dengan harga tiket yang sangat ekonomis, kita bisa berpindah dari satu tempat ke tempat lain yang cukup jauh dan hemat waktu karena bebas macet (walaupun terkadang juga ada gangguan lainnya).

Padatnya kereta disaat jam pergi dan pulang kerja terjadi setiap hari, bahkan hari Sabtu Minggu pun penggemar commuter line tetap ramai. Biasanya dipenuhi keluarga yang ingin berlibur di ibukota. Pilihan yang cukup ekonomis, bukan?

Bagi yang naik kereta setiap hari, pasti sudah terbiasa berdesak-desakan. Namun sangat disayangkan apabila ada beberapa penumpang yang tidak bisa menghargai sesama penumpang.

Saat pagi, para penumpang yang bertujuan ke kantor, semuanya ingin tiba tepat waktu, semuanya ingin segera naik kereta. Saat sore, para penumpang yang akan pulang ke rumah, semuanya ingin cepat bertemu orang terkasih di rumah, semunya ingin berkumpul dan makan malam bersama keluarga di rumah. Hal ini membuat mereka lupa ada penumpang lain disekitarnya. Saling dorong mendorong, tarik menarik, hingga sikut menyikut sangat sering terjadi. Tak jarang ada beberapa penumpang yang terlibat adu mulut bahkan adu jotos karena emosi yang tinggi.

Lalu, salah siapa?

Tidak akan ada pihak yang bisa disalahkan kecuali kesadaran setiap individu. Kesadaran masing-masing dalam hidup bermasyarakat dengan statusnya sebagai makhluk sosial.

An Hour

Tags

, , , , , , , ,

Living in a big city – which has traffic jam in rush hour – could trigger stress easily.

It was Friday and raining. Everyone just left the office. Some might go to party, some might go home. The road is quite crowded as everyone was driving.

You would think more time needed to spend on the way to reach somewhere. For example, you are going to the airport from the town. Usually it will take an hour, but realizing the condition, there should be more than an hour.

In that situation, you prefer to choose the fastest transportation as alternative although it will cost you much higher. This thought was influenced by the reality in Jakarta and you did not want to miss the flight or mess up any plan on schedule.

Until there was someone – local people – who convinced you that everything will be fine and the bus – the cheapest one – is able to reach the airport by an hour.

Believe it or not.

You’ll be amazed!

The bus was leaving from terminal on 7.20 p.m. and we were arriving at the airport on 8.20 p.m.

Traffic jam? YES. Please take a note: it was also raining even some roads were flooding.

Lucky? Hmm…

It is considered as “mental” of an hour perhaps. The real one, no matter what happened.

Pelanggan Harus Sabar (?)

Tags

, , , ,

Minggu 22 Nov 2015
Sekitar jam 14.30 saya baru pulang ibadah dan mengetahui koneksi internet tidak berfungsi. Saya pun langsung coba restart, tapi masih tidak bisa. Alhasil sy matikan dan tinggal istirahat sejenak.
Sekitar jam 16.30 saya terbangun dan kembali mencoba namun koneksi internet masih belum bisa. Hingga jam 18.00 saya putuskan melapor 147.
Diangkatlah oleh seorang bapak yg sangat ramah, katanya jaringan bermasalah dan segera dibantu restart dari pusat. Saya tunggu beberapa jam hingga pukul 22.00 kembali saya telpon karena masih tidak ada perubahan. Diangkat kembali oleh seorang pria dan bilang akan bantu dilaporkan kembali.

Senin, 23 Nov 2015
Sekitar jam 12 siang dapat kabar dari mama bahwa wifi masih belum bisa terkoneksi. Mama pun tidak berhasil hubungi 147 karena sambungannya sibuk terus. Sorenya kembali dicoba dan berhasil, lagi lagi disuruh menunggu dan dibantu untuk percepat laporannya. Malam hari setiba di rumah sy telpon lagi, kali ini dijanjikan akan ada teknisi yg hubungi untuk cek lokasi.

Selasa, 24 Nov 2015
Bangun tidur langsung telpon  147 lagi untuk menanyakan perkembangan karena tidak ada sama sekali informasinya. Saya udah mulai resah tapi masih bisa menahan diri karena suara diujung telpon tsb sungguh ramah. Tapi kali ini sy menegaskan agar segera ada solusi atau alternatif, karena
sudah 2hari dan sangat menghambat aktivitas. Jawabannya dr wanita disebrang sana pun sama, tak lain dan bukan “iya bu kami bantu percepat laporannya dan minta teknisi segera menghubungi”
Sembari menunggu, sy pun terus menyampaikan kekecewaan melalui twitter. Siangnya, mama kembali telpon 147 juga plasa telkom bekasi namun sibuk terus. Ga telpon, ga twitter, jawaban yg saya dapatkan SAMA. Ditanya nunggu berapa lama pun tidak bisa dijawab, solusi atau
alternatifnya apa dijawab semaksimal mungkin kami akan selesaikan segera, bahkan tidak ada SATU PUN telpon masuk dari pihak telkom untuk follow up masalah ini. Pulang kerja, sekitar jam 7, sy kembali telpon 147 dan kali ini tidak bisa tahan emosi lagi. Terjawablah oleh seorang wanita bahwa masalah jaringan masih terjadi tp bukan massal, melainkan cuma koneksi pribadi. Ini aneh! Toh sy bayar penuh juga kok. Kalo gitu kenapa ga langsung utus teknisi cek lokasi. Mungkin ada kabel atau perangkat lain yg bermasalah. Saat itupun sy minta dgn sangat hormat agar dapat solusi yg konkret bukan disuruh tunggu terus. Mau sampe berapa lama nunggunya, masa iya gabisa dikasi estimasi, hingga terucap saya mau ganti provider lain aja karena saya sangat butuh koneksi internet utk beraktivitas.

Rabu, 25 Nov 2015
Sy minta tlg mama utk terus coba telpon plasa telkom bekasi dan segera kirim teknisi hari ini juga. Setelah berkali-kali coba akhirnya terhubung dan beruntung mendapat respon yg cepat walaupun harus sedikit menekan dan menuntut penanganan yg sudah berhari-hari diabaikan. Sekitar jam 11 pagi teknisi tiba di rumah dan sy langsung bicara agar memperjelas situasi sebenarnya.
Dan sungguh luar biasa mengejutkan karena ternyata bukan jaringan melainkan kondisi router adsl yg tidak berfungsi dengan baik dan harus diganti.

Saya sudah mempercayakan 147 akan profesional dalam hal membantu pelanggannya, namun nihil! Ini seperti pembodohan bahkan pembohongan publik!
Bagaimana tidak? Pelanggan disuruh terus menunggu tanpa solusi dan alternatif yg jelas. Kenapa tidak langsung diarahkan ke plasa telkom terdekat atau kontak teknisi yg dapat dihubungi. Alasannya plasa telkom pun akan cek ke 147 dulu, tapi buktinya teknisi bisa langsung segera ke lokasi setelah mama sy berhasil menghubungi plasa telkom walaupun dgn emosi dan menuntut atas lambannya penanganan telkom. Teknisi pun berkata bahwa 147 hanya melihat berdasarkan sistem dan tidak mengetahui lapangan.
Pelanggan yg tidak paham kondisi situasi tsb dibuat sepenuhnya percaya pada sesuatu yg kenyataanya berbanding terbalik dengan yg terjadi dilapangan.
Sebagai contoh lain, sy sempat menanyakan produk lain sembari memberi laporan. Dijawablah bahwa lokasi sy belum tercover. Namun saat sy konfirmasi dgn teknisi, dijawabnya kalau disini sudah bisa utk pemasangan produk baru tsb.

Lalu apa fungsinya pelanggan melapor ke 147?
Apa fungsinya diberikan pelayanan pengaduan selama 24jam?
Mereka semua ibarat robot yg harus tetap mengatakan A apapun yg terjadi.
Tidak ada yg tau kebenarannya kalau pengaduan sudah dilaporkan.
Apa hal itu disengaja?
Sengaja karena biasanya ada adik sy yg paham masalah jaringan koneksi dan tidak bisa dibohongin, namun kebetulan ini ga ada, maka dipersulit lah penanganannya.
Sengaja membuat pelanggannya menunggu hingga murka kemudian beralih ke produk baru dengan iming-iming lebih oke.

SAYA SUNGGUH SANGAT KECEWA dengan sistem pelayanan yg tidak sebanding dengan perkembangan teknologi yg semakin canggih.
SAYA SUNGGUH SANGAT KECEWA karena para operator/CS 147 tidak di edukasi untuk memberikan alternatif lain
selain menunggu, mempercepat laporan, dan minta maaf.

Kekosongan Hidup

Tags

, , , , , , ,

Di tengah ibukota yang penuh akan gedung tinggi, dimana padat akan manusia yang datang untuk mengejar mimpi hingga meniti karir demi memenuhi kebutuhan hidupnya, saya berasumsi, kami, mereka, semua manusia penghuni bumi ini diciptakan dengan akhlak yang paling sempurna dibanding makhluk hidup lainnya. Namun sayang, tidak semuanya “baik”.

Kalaupun semuanya baik, saya rasa itu menandakan “kiamat”; tidak terjadi konflik apapun karena segalanya aman dan tentram terkendali. Semua manusianya bijaksana dan hidup bahagia. Bukan kah itu akan terasa aneh dan tidak biasa?

Begitupun sebaliknya, saat dunia ini terisi oleh tindak kejahatan, semua manusianya tidak baik , dan berbagai hal negatif lainnya pun akan datang bertubi-tubi tiada henti. Itu namanya kehancuran!

Maka dari itu akan selalu ada sisi positif dan negatif, baik dan buruk, semua yang saling berlawanan tersebut justru membuat pertahanan sangat kuat. Adanya gaya tarik menarik satu sama lain sehingga menjadikan setiap hal atau individu berusaha menang dan muncul yang namanya kompetisi. Walaupun akan ada pihak yang kalah, tapi tentunya selalu ada usaha lain untuk tetap bertahan.

Disini menunjukan bahwa adanya dua sisi yang terdapat kekosongan atau jarak ditengahnya. Sebagai contoh, adanya penjual dan pembeli karena terdapat transaksi, entah si pembeli menginginkan suatu hal ataupun si penjual memiliki suatu hal yang ditawarkan. Saat mereka bertemu pada satu titik, yang terjadi adalah bersatu karena saling mengisi. Bayangkan saja jika ada penjual namun tidak ada pembeli dan sebaliknya saat para pembeli tidak menemukan penjual sama sekali…

Seperti yang saya jabarkan sebelumnya, tidak ada “kehidupan”. Rumit ya? Sebenarnya ini hanya analisa pribadi karena melihat aktivitas dan problema yang ada. Bukannya ingin membuat diri saya atau bahkan orang lain memikirkan hal ini lebih jauh dan lebih dalam lagi. Tapi sudah seharusnya kita paham akan situasi dan kondisi yang tidak kekal ini. Tetap bersyukur atas yang kita punya, tetap menghargai sekitar yang tinggal satu “atap” dengan kita, tetap berjuang paling tidak untuk menjadi manusia bernilai dengan moral tinggi 🙂

Are you?

Tags

, , , , , , , , , , ,

Are you afraid when you meet someone?

Are you sad when you lose someone?

Are you mad when you hurt by someone?

The moment will be only the memories…

Once you feel happy, please enjoy and keep it.

Once you feel lucky, please smile and be grateful.

Once you feel creepy, please close your eyes and take a deep breath.