Tags

, , , , , , , , ,

Sebagai manusia yang bermoral cukup, tentu kita diajarkan untuk memberi daripada meminta atau secara kiasan; lebih baik tangan diatas daripada dibawah. Mungkin pada kenyataannya, hal itu tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Tapi sebenarnya, jika terdapat hati yg tulus, maka bahagia akan datang dengan sendirinya.
Ada cerita tentang hal tersebut yang kebetulan mungkin sering ditemui orang pada umumnya dibulan puasa ini.
Setiap saya pulang kerja, ada seorang ibu tua yang menjual gorengan, lontong, atau makanan lainnya di dalam box kecil yang dibawanya. Jualannya tidak banyak, karena beliau hanya duduk dipinggir trotoar.

Tapi ibu tersebut membuat saya kagum karena beliau tidak mengemis, melainkan menjual makanan demi mengumpulkan sedikit uang. Ketika saya lewat dan bertemu dengannya pertama kali, makanan yang dijual tersebut masih cukup banyak.
Maka saya pun membelinya 2 tahu dan 2 tempe (yang sebenarnya tidak ingin makan gorengan, melainkan berdana untuk si ibu) tapi kemudian, karena lapar, saya pun memakannya sebagian. Sisanya saya berikan kepada orang lain sebagai bentuk dana makanan dikala bulan puasa 🙂
Hal ini bukan hanya sekali, tapi juga bukan setiap hari.

Dikesempatan lain saya kembali bertemu si ibu yang kali ini lontongnya masih banyak. Saya pun membelinya 3 karena lagi2 ingin berdana pada ibu tersebut. Kalaupun saya mau makan sekedar mencicipi, satu saja sudah cukup. Lalu bagaimana dengan sisanya? Sungguh kebetulan, ada ibu tua dengan karung besarnya berisi rongsok di stasiun meminta uang untuk beli makanan namun orang-orang hanya jalan melewatinya karena ingin segera pulang. Ibu itu memang mengemis tapi beliau bukan pengemis karena saya bisa lihat dari bawaannya, beliau hanya lapar setelah mengais rongsokan.
Saya pun langsung mengambil lontong tadi dan memberikannya. Reaksi si ibu yang membuat saya berjalan dengan senyum, beliau berkali-kali mengucap syukur karena akhirnya bisa makan.

Ini yang dinamakan tulus, ketika kita ingin berbuat baik yang kemudian membuat orang lain bahagia, lalu diteruskan lagi sehingga ada orang berikutnya yang bahagia atas perbuatan baik kita, bukan kah itu membuat kita turut berbahagia?
Tapi bagaimana kalau perbuatan baik kita tidak membuahkan kebahagiaan untuk orang lain? Atau mungkin terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehingga kita menyesal berbuat baik tersebut.

Simpel aja, itu namanya gak tulus! Dan yang ada menderita karena kesal 🙂

Advertisements