Tags

, , , , , , ,

Di tengah ibukota yang penuh akan gedung tinggi, dimana padat akan manusia yang datang untuk mengejar mimpi hingga meniti karir demi memenuhi kebutuhan hidupnya, saya berasumsi, kami, mereka, semua manusia penghuni bumi ini diciptakan dengan akhlak yang paling sempurna dibanding makhluk hidup lainnya. Namun sayang, tidak semuanya “baik”.

Kalaupun semuanya baik, saya rasa itu menandakan “kiamat”; tidak terjadi konflik apapun karena segalanya aman dan tentram terkendali. Semua manusianya bijaksana dan hidup bahagia. Bukan kah itu akan terasa aneh dan tidak biasa?

Begitupun sebaliknya, saat dunia ini terisi oleh tindak kejahatan, semua manusianya tidak baik , dan berbagai hal negatif lainnya pun akan datang bertubi-tubi tiada henti. Itu namanya kehancuran!

Maka dari itu akan selalu ada sisi positif dan negatif, baik dan buruk, semua yang saling berlawanan tersebut justru membuat pertahanan sangat kuat. Adanya gaya tarik menarik satu sama lain sehingga menjadikan setiap hal atau individu berusaha menang dan muncul yang namanya kompetisi. Walaupun akan ada pihak yang kalah, tapi tentunya selalu ada usaha lain untuk tetap bertahan.

Disini menunjukan bahwa adanya dua sisi yang terdapat kekosongan atau jarak ditengahnya. Sebagai contoh, adanya penjual dan pembeli karena terdapat transaksi, entah si pembeli menginginkan suatu hal ataupun si penjual memiliki suatu hal yang ditawarkan. Saat mereka bertemu pada satu titik, yang terjadi adalah bersatu karena saling mengisi. Bayangkan saja jika ada penjual namun tidak ada pembeli dan sebaliknya saat para pembeli tidak menemukan penjual sama sekali…

Seperti yang saya jabarkan sebelumnya, tidak ada “kehidupan”. Rumit ya? Sebenarnya ini hanya analisa pribadi karena melihat aktivitas dan problema yang ada. Bukannya ingin membuat diri saya atau bahkan orang lain memikirkan hal ini lebih jauh dan lebih dalam lagi. Tapi sudah seharusnya kita paham akan situasi dan kondisi yang tidak kekal ini. Tetap bersyukur atas yang kita punya, tetap menghargai sekitar yang tinggal satu “atap” dengan kita, tetap berjuang paling tidak untuk menjadi manusia bernilai dengan moral tinggi 🙂

Advertisements