Tags

, , , , , ,

Mungkin cerita ini hanya sebagian kecil untuk menggambarkan betapa bobroknya negeri Indonesia ini.

Sore hari, saat saya dan beberapa penumpang lain turun kereta di suatu stasiun, kami dikagetkan dengan keributan beberapa orang. Ternyata telah terjadi baku hantam, bahkan kelihatannya adalah seseorang yang sedang diserang karena hal yang kmai tidak ketahui. Namun yang lebih mengejutkan lagi, beberapa orang yang juga baru saja turun kereta langsung lari dan seolah memprovokasi hingga memperkeruh suasana. Mereka langsung ikut baku hantam, menyerang salah seorang yang memang menjadi sasaran sebelumnya.

Cuplikan kejadian tersebut membuat saya berpikir bahwa ini adalah realita negara kita. Banyak yang sudah terjadi diluar sana pun karena ulah orang tidak bertanggung jawab sehingga mengakibatkan beberapa pihak tidak bersalah merasa dirugikan. Mental provokator dan jiwa yang tidak bijak membawa jalan pikiran seseorang kearah tidak baik.

Sungguh miris. Di negara yang memiliki dasar Pancasila, menyokong hidup gotong royong, mengakui adanya keberagaman hingga semboyan Bhineka Tunggal Ika namun masih banyak individu yang berperilaku menyedihkan dan sangat tidak beretika. Sangat disayangkan, bukan?

Sumber daya banyak namun krisis moral menyerang. Siapa yang salah? Pertanyaan ini sebenarnya sulit untuk dijawab. Karena akar permasalahannya juga sangat sulit dipastikan. Akan selalu ada sisi yang berbeda jika dilihat dari sudut pandang berbeda pula. Dan jika disatukan maka ini menjadi sebuah rantai kemudian membentuk “lingkaran setan” yang tak kunjung putus. Selain itu, pembahasan ini juga menimbulkan pro dan kontra dengan berbagai

Saya akan coba ilustrasikan sedikit disini agar bisa terlihat seperti apa realitanya. Menurut saya, sebagai orang yang berpendidikan, rendahnya atau menurunnya tingkat moral individu di Indonesia disebabkan oleh edukasi negeri ini. Seharusnya dengan terpenuhinya kebutuhan edukasi dini tersebut, manusia akan terbentuk karakter dan moralnya. Namun sayang, pada kenyataannya masih banyak yang belum mendapatkan kesempatan mengenyam pendidikan. Bahkan, tingginya pemikiran yang sangat tradisional turut berperan dalam rendahnya atau tertutupnya cara berpikir masyarakat.

Namun jika ditelaah kembali, apa yang menjadikan pendidikan Indonesia demikian?

Pagi itu saya akan berangkat ke kantor. Sembari tunggu kereta dateng, saya liat ada ibu hamil dan saya berpikir gila juga nih si ibu kalo bertarung masuk kereta. Apa iya bakal ada yang mau kasi duduk.

Setelah kereta dateng, saya langsung masuk dan dapet duduk. Fyi, ini kereta feeder makanya agak lengang DIKIT. Pas kereta jalan, saya liat si ibu hamil itu lagi dan DIA BERDIRI. Gila kan! Dugaan gue bener. Alhasil saya panggil dan suruh dia duduk ditempat saya.

Miris banget rasanya, penumpang lain dekat sana pada ga punya pikiran kasi duduk buat si ibu hamil apa? Itu perutnya keliatan banget loh. Ga ngerti lagi sama manusia di dalem kereta waktu itu.

Pesan aja sih buat temen-temen dan seluruh pengguna transportasi umum. Belajarlah untuk tidak egois. Peduli sesama di sekitar Anda. Memang betul, Anda tidak mengenalnya, tapi bebuat baik bukanlah hal yang merugikan bukan?

Semoga saja kejadian ini bisa berkurang sedikit demi sedikit.

Advertisements